
Peningkatan kapasitas kelompok perempuan di tingkat desa menjadi kunci utama keberhasilan strategi kesetaraan gender praktis di Indonesia.
GRB Project – Data BPS 2023 menunjukkan bahwa partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia masih tertinggal 17 persen dibandingkan laki-laki, sebuah kesenjangan yang seolah berhenti di angka statis meskipun ratusan kebijakan telah diluncurkan. Fenomena ini menandakan adanya jarak antara niat baik di atas kertas dengan realitas lapangan yang masih sarat hambatan struktural dan budaya. Banyak solusi yang ditawarkan bersifat normatif dan seragam, tanpa mempertimbangkan dinamika sosial yang berbeda di setiap wilayah.
Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi yang stabil pada tahun 2024, namun pembagian manfaat ekonomi ini belum merata secara gender. Laporan World Economic Forum tahun 2023 menempatkan Indonesia pada peringkat 87 dari 146 negara dalam indeks kesetaraan gender, jauh tertinggal dibandingkan tetangga Asia Tenggara seperti Filipina atau Thailand. Angka ini bukan sekadar data abstrak, melainkan cerminan dari sistem yang masih memprioritaskan peran laki-laki sebagai pencari nafkah utama dan perempuan sebagai pengurus domestik.
Kebijakan yang selama ini berlaku cenderung bersifat makro dan top-down. Pemerintah pusat sering menerbitkan regulasi besar tanpa memberikan ruang adaptasi yang cukup bagi pemerintah daerah. Akibatnya, program-program pemberdayaan perempuan sering kali berjalan di tempat, karena tidak menyentuh akar masalah utama, yaitu beban ganda (double burden) yang dialami perempuan. Perempuan bekerja di sektor formal maupun informal, namun masih memikul tanggung jawab utama dalam urusan rumah tangga dan pengasuhan anak.
Budaya patriarkal yang kuat di berbagai daerah memperparah kondisi ini. Di beberapa wilayah, perempuan yang bekerja di luar rumah masih dianggap kurang menjaga martabat keluarga, sehingga banyak yang memilih tidak bekerja atau bekerja di sektor informal yang tidak terlindungi. Stigma ini membuat intervensi ekonomi saja tidak cukup. Diperlukan pendekatan yang sensitif gender sejak dini, yang melibatkan figur-figur otoritas lokal seperti pemuka agama dan tokoh adat untuk mengubah narasi tersebut.
Ketika kami melakukan pemantauan selama tiga bulan di tiga desa berbeda di Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur, kami menemukan fakta yang mengejutkan. Program pelatihan keterampilan yang difasilitasi pemerintah memiliki tingkat keberhasilan yang rendah dalam jangka panjang. Dari 50 peserta pelatihan menjahit yang kami survei, 80 persen di antaranya kembali tidak aktif berproduksi dalam waktu enam bulan setelah pelatihan selesai.
Penyebab utamanya bukan karena ketidakmampuan teknis, melainkan kurangnya akses pemasaran dan modal usaha yang berkelanjutan. Sebagian besar peserta adalah ibu rumah tangga yang tidak memiliki waktu luang untuk menjalankan bisnis sampingan intensif karena kewajiban mengurus anak dan rumah tangga. Program pelatihan yang hanya berfokus pada hard skills tanpa menyentuh isu pembagian kerja domestik di dalam rumah tangga, pada akhirnya hanya membuang anggaran.
Selain itu, mekanisme distribusi bantuan sosial yang seringkali tidak tepat sasaran juga menjadi masalah. Dalam studi kasus di desa penopang pangan, bantuan bibit dan alat pertanian seringkali didistribusikan atas nama kepala keluarga, yang secara statistik mayoritas adalah laki-laki. Padahal, dalam praktiknya, perempuan-lah yang melakukan mayoritas aktivitas pertanian subsisten. Hal ini membuat perempuan kehilangan kontrol terhadap aset produktif dan ketergantungan ekonomi mereka terhadap pasangan tidak pernah berkurang.
Baca Juga: Kebijakan Publik dalam Mendorong Kesetaraan Gender: Peluang dan Tantangan
Ketimpangan gender tidak hanya memengaruhi perempuan, tetapi juga memiliki dampak langsung pada isu anak. Data UNICEF 2022 menyebutkan bahwa anak-anak yang dibesarkan oleh ibu dengan tingkat pendidikan dan kesejahteraan rendah memiliki risiko stunting 1,5 kali lebih tinggi. Ketika perempuan terjebak dalam kemiskinan struktur dan waktu kerja yang panjang tanpa jaminan sosial, waktu untuk memberikan ASI eksklusif, memantau gizi, dan melakukan stimulasi psikologis pada anak menjadi berkurang drastis.
Isu anak dan perempuan adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Kualitas generasi penerus bangsa sangat ditentukan oleh kesejahteraan perempuan sebagai pengasuh utama. Negara menanggung biaya sosial yang tinggi ketika mengabaikan hak-hak reproduksi dan ekonomi perempuan, yang berujung pada penurunan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Baca Juga: Pendekatan Gender dalam Pembangunan (GAD): Evolusi Konsep & Strategi di Indonesia
Yang jarang dibahas dalam forum publik adalah pentingnya mengintegrasikan perspektif gender ke dalam perencanaan anggaran daerah. Gender Responsive Budgeting (GRB) sering kali hanya dianggap sebagai kegiatan administrasi pelaporan, padahal ini adalah instrumen strategis untuk mengalokasikan sumber daya secara adil. Sebagian besar daerah belum memahami cara menghitung kebutuhan spesifik perempuan dan anak dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).
Fakta yang sering diabaikan adalah bahwa investasi pada layanan publik seperti penitipan anak publik (public childcare) dan sanitasi yang aman, memiliki efek pengali (multiplier effect) yang besar bagi ekonomi. Negara-negara Skandinavia telah membuktikan bahwa subsidi untuk layanan perawatan anak mampu meningkatkan partisipasi kerja perempuan secara signifikan. Di Indonesia, pembangunan fasilitas PAUD atau Taman Kanak-kanak sering kali difokuskan pada aspek pendidikan saja, mengabaikan fungsi pengasuhan untuk membantu ibu bekerja.
Salah satu kendala utama dalam perumusan strategi kesetaraan gender praktis adalah kurangnya data terpilah secara gender (sex-disaggregated data). Banyak kebijakan dibuat berdasarkan asumsi, bukan data empiris mengenai bagaimana sebuah kebijakan akan memengaruhi laki-laki dan perempuan secara berbeda. Tanpa data yang akurat, intervensi yang dilakukan bersifat buta dan berpotensi menimbulkan dampak yang tidak diharapkan.
Baca Juga: Kajian Pengarusutamaan Gender Analisis Ketimpangan …
Untuk menepis ketimpangan ini, dibutuhkan pendekatan dari bawah yang memberdayakan struktur komunitas yang sudah ada. Salah satu skenario konkret yang bisa diterapkan adalah revitalisasi peran Posyandu tidak hanya sebagai pusat kesehatan ibu dan anak, tetapi juga sebagai pusat informasi dan pemberdayaan ekonomi keluarga. Integrasikan sesi penyuluhan hak reproduksi dan literasi finansial dalam kegiatan Posyandu bulanan.
Contoh tindakan nyata lainnya adalah mendorongBUMDes (Badan Usaha Milik Desa) untuk mengalokasikan 20 persen dari laba usaha untuk dana kemitraan usaha kelompok ibu rumah tangga. Jika kamu adalah kepala desa atau pengelola BUMDes, coba audit program yang sedang berjalan. Apakah program tersebut hanya menargetkan output angka peserta, atau sudah mengukur outcome kenaikan pendapatan dan jam kerja fleksibel bagi perempuan? Transparansi data ini krusial untuk akuntabilitas.
Strategi kesetaraan gender praktis tidak akan berhasil tanpa melibatkan laki-laki sebagai agen perubahan. Program-program yang mengajak laki-laki untuk berbagi peran domestik perlu dikampanyekan tidak sebagai ancaman maskulinitas, tetapi sebagai bentuk tanggung jawab keluarga yang baru. Kampanye “Ayah Peduli Asuh” di beberapa daerah terbukti mampu mengurangi beban mental ibu dan meningkatkan bonding ayah-anak.
Strategi kesetaraan gender praktis adalah pendekatan konkrit untuk menghilangkan hambatan yang menghalangi perempuan dan laki-laki menikmati hak dan kesempatan yang sama dalam kehidupan sehari-hari, dengan fokus pada solusi yang bisa diukur dan diimplementasikan langsung di lapangan.
Partisipasi rendah disebabkan oleh beban ganda kerja domestik dan produktif, kurangnya dukungan fasilitas penitipan anak, serta stigma budaya yang masih membatasi ruang gerak perempuan untuk berkarir di sektor publik.
Masyarakat dapat mendukung dengan cara mengubah pola asuh yang stereotip, mendorong pembagian kerja rumah tangga yang adil antara suami dan istri, serta aktif melaporkan kasus kekerasan atau diskriminasi gender kepada otoritas setempat.
Tidak, kebijakan kesetaraan gender justru bertujuan untuk menciptakan keadilan bagi semua gender. Laki-laki juga diuntungkan dengan adanya pembagian beban tanggung jawab ekonomi dan domestik, sehingga tidak lagi menjadi satu-satunya penanggung hidup dalam keluarga.
Pemerintah daerah berperan vital dalam merumuskan kebijakan lokal yang sensitif gender, mengalokasikan anggaran daerah untuk program pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, serta memastikan layanan publik dapat diakses oleh semua warga tanpa diskriminasi.
Mencapai kesetaraan gender bukanlah perlombaan siapa yang lebih unggul, melainkan tentang memastikan setiap individu, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Perubahan ini membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil. Kita harus mulai bertanya, apa kontribusi nyata kita hari ini untuk menciptakan lingkungan yang lebih adil bagi anak-anak kita di masa depan?
GRB Project - Komnas Perempuan mencatat ada 407.848 kasus kekerasan terhadap perempuan selama tahun 2023. Angka ini menunjukkan peningkatan yang…
GRB Project - Indonesia masih menghadapi tantangan berat dalam mewujudkan keadilan gender meski telah meratifikasi berbagai konvensi internasional. Data terbaru…
GRB Project - Laporan terbaru Amnesty International tahun 2023 mencatat setidaknya ada 60 kasus kriminalisasi terhadap aktivis dan pembela HAM…
GRB Project, Jakarta - Laporan World Economic Forum 2024 menempatkan Indonesia pada peringkat 87 dari 146 negara dalam indeks kesetaraan…
GRB Project - Komisi Perlindungan Anak Indonesia mencatat 28.911 kasus kekerasan terhadap anak sepanjang 2023. Angka ini bukan sekadar statistik…
GRB Project - Laporan UN Women 2023 menunjukkan hanya 2% dari total pendanaan kemanusiaan global yang secara eksplisit menyasar kesetaraan…