
GRB Project – Dialog budaya tentang ham kian mengemuka sebagai cara damai merespons perbedaan pandangan atas hak asasi manusia di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
Dialog budaya tentang ham merujuk pada proses bertukar pandangan secara terbuka, setara, dan saling menghormati tentang hak asasi manusia dengan menggunakan bahasa dan rujukan nilai yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Praktik ini tidak memaksakan satu tafsir, melainkan mengajak warga dari berbagai latar belakang budaya, agama, dan generasi untuk berbicara mengenai martabat manusia.
Dalam konteks Indonesia, dialog ini menjadi penting karena keberagaman identitas sering kali bertemu dengan interpretasi berbeda tentang hak dan kewajiban. Meski begitu, semangat dasar menghormati martabat setiap orang sebenarnya sudah tertanam dalam banyak tradisi lokal. Karena itu, merangkai wacana hak asasi dengan kearifan lokal membantu mengurangi kesan bahwa HAM adalah konsep asing.
Selain itu, pendekatan dialogis memberi ruang bagi kelompok yang selama ini jarang didengar. Masyarakat adat, komunitas minoritas, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya dapat menyampaikan pengalaman mereka, sementara kelompok mayoritas belajar melihat persoalan dari sudut pandang baru.
Sering muncul anggapan bahwa hak asasi bertentangan dengan nilai budaya atau ajaran agama. Di sisi lain, banyak norma adat maupun ajaran keagamaan justru menekankan penghormatan terhadap sesama, larangan menyakiti, dan kewajiban melindungi yang lemah. Di titik inilah dialog budaya tentang ham berperan sebagai jembatan.
Melalui pertemuan yang terstruktur, tokoh agama, pemuka adat, akademisi, dan warga biasa dapat duduk bersama. Mereka menelusuri titik temu antara prinsip HAM dengan nilai yang sudah hidup lama di tengah masyarakat, seperti gotong royong, musyawarah, dan solidaritas sosial. Pendekatan ini membantu mengurangi kecurigaan, sekaligus menegaskan bahwa penghormatan hak bukan ancaman bagi identitas budaya.
Di berbagai daerah, forum semacam ini mulai berkembang dalam bentuk diskusi kampung, dialog lintas iman, hingga kelas komunitas. Akibatnya, nilai penghormatan terhadap martabat manusia tidak hanya hadir dalam dokumen hukum, tetapi berubah menjadi praktik sosial sehari-hari.
Pendidikan memegang peran penting dalam memperkuat dialog budaya tentang ham, baik melalui jalur formal di sekolah dan perguruan tinggi maupun jalur nonformal di komunitas. Di ruang kelas, guru dapat mengaitkan prinsip hak asasi dengan cerita rakyat, pepatah lokal, atau kisah sejarah daerah yang mengandung pesan penghormatan sesama.
Sementara itu, di lingkungan komunitas, diskusi santai di balai warga, rumah ibadah, atau ruang kreatif anak muda dapat menjadi arena yang efektif. Pendekatan partisipatif, seperti permainan peran, pemutaran film, dan lokakarya seni, membuat isu HAM terasa dekat dengan realitas warga. Setelah itu, peserta dapat merefleksikan pengalaman mereka dan merumuskan langkah kecil untuk mengurangi tindakan diskriminatif.
Read More: Penjelasan dasar hak asasi manusia dari PBB
Di sisi lain, media komunitas dan platform digital lokal mampu memperluas jangkauan dialog. Liputan mengenai inisiatif warga dalam menyelesaikan konflik tanpa kekerasan atau mengadvokasi kelompok rentan bisa menginspirasi daerah lain. Namun, literasi digital perlu diperkuat agar ruang online tidak justru menjadi sumber ujaran kebencian.
Meski memiliki potensi besar, dialog budaya tentang ham menghadapi beragam tantangan. Sebagian masyarakat masih memandang isu HAM secara sempit, hanya terkait pelanggaran berat masa lalu, atau dikaitkan dengan kepentingan politik tertentu. Pandangan seperti ini membuat orang enggan membuka percakapan secara jujur.
Sementara itu, ketimpangan relasi kuasa antara kelompok yang dominan dan kelompok rentan dapat menghambat keterbukaan. Tanpa fasilitasi yang adil, dialog berisiko berubah menjadi ajang menggurui. Karena itu, kehadiran fasilitator yang terlatih penting agar semua pihak mendapat kesempatan bicara dan merasa aman menyampaikan pengalaman.
Faktor lain yang kerap muncul adalah rasa takut dianggap melawan tradisi ketika mengkritisi praktik yang berpotensi melanggar hak. Di sini, kemampuan menjelaskan perbedaan antara nilai inti budaya yang melindungi martabat dan praktik sosial yang mungkin perlu diperbarui menjadi sangat krusial.
Agar dialog budaya tentang ham benar-benar inklusif, penyelenggara kegiatan perlu secara sadar melibatkan kelompok yang selama ini diabaikan. Undangan tidak cukup; panitia harus memastikan ruang, waktu, dan metode dialog ramah bagi perempuan, anak muda, penyandang disabilitas, dan kelompok minoritas.
Penggunaan bahasa sehari-hari lebih efektif daripada istilah teknis yang sulit. Contoh kasus konkret dari lingkungan sekitar akan membantu peserta memahami bahwa hak asasi bukan sekadar teori, melainkan menyangkut keselamatan, kebebasan berekspresi, akses layanan dasar, dan perlindungan dari kekerasan.
Selain itu, dokumentasi hasil dialog dapat menjadi rujukan untuk kebijakan lokal. Catatan pengalaman warga, rekomendasi bersama, dan komitmen tindak lanjut bisa disampaikan kepada pemerintah daerah, lembaga keagamaan, atau organisasi masyarakat sipil. Dengan begitu, percakapan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi memicu perubahan nyata.
Penguatan hak asasi di Indonesia bergantung pada kemampuan masyarakat menjadikan penghormatan hak sebagai bagian dari budaya sehari-hari. Inisiatif kreatif, seperti festival budaya, pertunjukan teater, atau pameran foto yang mengangkat tema martabat manusia, dapat mempopulerkan gagasan ini tanpa kesan menggurui.
Dalam jangka panjang, semakin banyak komunitas yang menghidupkan dialog budaya tentang ham akan memperkuat sikap saling menghargai di tengah perbedaan. Di rumah, di sekolah, di tempat kerja, dan di ruang publik, orang terbiasa mengkritisi tindakan diskriminatif, sekaligus mencari solusi melalui percakapan yang damai.
Pada akhirnya, dialog budaya tentang ham menjadi fondasi penting bagi kehidupan berbangsa yang berkeadilan. Dengan mengaitkan prinsip hak asasi dengan nilai luhur yang sudah mengakar, masyarakat dapat membangun lingkungan yang lebih aman, terbuka, dan menghormati martabat setiap orang tanpa kecuali.