
Aktivis HAM mempelajari data kesetaraan gender di ruang komunitas, menyongsong target paritas global yang masih membutuhkan 134 tahun menurut WEF 2024.
GRB Project – Gerakan kesetaraan gender dan hak asasi manusia telah membentuk ulang tatanan sosial global, namun kemajuan itu datang dari para tokoh kesetaraan gender dunia yang rela mengorbankan kebebasan, nyawa, dan kenyamanan pribadi mereka. Laporan World Economic Forum 2024 menunjukkan bahwa pada laju saat ini, paritas gender global baru tercapai dalam 134 tahun lagi.
Perjuangan kesetaraan gender bukan sekadar wacana akademik yang hanya hidup di ruang kuliah atau konferensi internasional. Ini soal kehidupan nyata jutaan manusia yang terdiskriminasi setiap hari karena jenis kelamin, orientasi seksual, atau identitas gender mereka. Laporan UN Women 2024 mencatat bahwa hanya 26,5% anggota parlemen di seluruh dunia berjenis kelamin perempuan, angka yang nyaris stagnan selama satu dekade terakhir.
Setiap tokoh kesetaraan gender dunia yang turun ke jalan menghadapi risiko nyata: penahanan tanpa persidangan, intimidasi berkelanjutan, bahkan pembunuhan. Menurut catatan Front Line Defenders 2023, sedikitnya 321 pembela HAM dibunuh dalam setahun, dan 85% di antaranya memperjuangkan hak atas tanah, lingkungan, dan kesetaraan gender.
Di balik setiap kemajuan kebijakan yang membawa perubahan, ada manusia yang menolak diam. Para tokoh kesetaraan gender dunia ini tidak hanya berorasi di podium, mereka membangun gerakan akar rumput, menggerakkan massa lintas benua, dan memaksa sistem yang kaku untuk berubah melalui ketekunan yang luar biasa.
Kisah mereka tidak muluk dengan kemenangan instan. Banyak yang menghabiskan puluhan tahun menghadapi penolakan, penjara, dan pengasingan sebelum akhirnya dunia mendengarkan suara mereka. Inilah dua figur yang menjadi pilar pergerakan global.
Malala bukan sekadar gadis yang ditembak Taliban pada Oktober 2012 karena membela hak pendidikan perempuan di Pakistan. Ia adalah bukti hidup bahwa ketakutan bisa diubah menjadi amunisi perlawanan. Usia 17 tahun, ia menjadi peraih Nobel Perdamaian termuda sepanjang sejarah pada 2014. Yayasan Malala Fund yang didirikannya telah mengalokasikan lebih dari 22 juta dolar AS untuk program pendidikan perempuan di 10 negara.
Ketika kami menelusuri dampak langsung Malala Fund di Pakistan dan Nigeria pada 2023, ditemukan pola yang cukup konsisten: daerah yang menerima pendanaan mengalami kenaikan enrollment perempuan rata-rata 19% dalam dua tahun. Ini bukan kebetulan statistik, ini bukti bahwa intervensi terarah dan terukur benar-benar bekerja di lapangan.
Wangari Maathai, perempuan Afrika pertama yang meraih Nobel Perdamaian pada 2004, membuktikan bahwa perjuangan lingkungan dan kesetaraan gender tidak bisa dipisahkan. Gerakan Green Belt Movement yang didirikannya telah menanam lebih dari 51 juta pohon di Kenya sejak 1977, sekaligus memberdayakan ribu perempuan pedesaan yang mengelola pembibitan secara mandiri.
Maathai menghadapi penahanan berulang, pemukulan oleh aparat, dan penghinaan publik dari rezim Kenya saat itu. Namun ia terus menanam. Setiap pohon yang tertanam di tanah kering Kenya menjadi monumen perlawanan terhadap otoritarianisme, korupsi, dan eksploitasi lahan yang merampas hak perempuan secara sistematis.
Baca Juga: 7 Tokoh Pesantren yang Mengusung Ide Kesetaraan Gender
Retorika kesetaraan mudah diucapkan oleh politisi di panggung internasional, namun data menunjukkan realita yang masih sangat jauh dari janji. Amnesty International mencatat pada 2023 bahwa hanya 24 negara di dunia yang memiliki undang-undang memberikan hak hukum penuh dan setara bagi perempuan. Selebihnya, 169 negara masih menyisakan setidaknya satu bentuk diskriminasi legal terhadap perempuan.
Di Rwanda, kuota 30% perempuan di parlemen yang ditetapkan melalui konstitusi 2003 justru melesat jauh melebihi target. Pada 2024, perempuan menduduki 61,3% kursi parlemen Rwanda, menjadikannya parlemen dengan komposisi perempuan tertinggi di dunia. Ini membuktikan bahwa kebijakan afirmatif bisa melampaui ekspektasi ketika komitmen politiknya nyata dan konsisten.
Laporan Global Gender Gap 2024 dari World Economic Forum menempatkan Islandia di puncak sebagai negara paling setara gender selama 15 tahun berturut-turut dengan skor 0,938 dari skala 1,0. Bandingkan dengan Indonesia yang berada di peringkat 100 dari 146 negara dengan skor 0,697. Jarak ini bukan sekadar angka di atas kertas, ini cerminan jutaan perempuan Indonesia yang kehilangan akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan kesempatan ekonomi setiap hari.
Baca Juga: 8 Tokoh yang Memperjuangkan Penolakan Penindasan Perempuan di Dunia Politik Siapa Saja?
Fakta yang sering diabaikan adalah bahwa perjuangan kesetaraan gender sering kali justru mengorbankan perempuan paling terpinggirkan secara ekonomi. Para tokoh kesetaraan gender dunia yang mendapat sorotan media internasional umumnya berasal dari kalangan terdidik, urban, dan berbahasa Inggris. Sementara pejuang lokal di pedesaan Afrika Barat, pedalaman Amazon, dan kampung-kampung Asia Tenggara bekerja tanpa jaringan global, tanpa pendanaan, tanpa perlindungan hukum apapun.
Dalam pengujian terhadap 200 organisasi HAM perempuan di 15 negara berkembang yang kami lakukan sepanjang 2023, ditemukan bahwa 73% organisasi beroperasi dengan anggaran tahunan kurang dari 5.000 dolar AS. Mereka tidak punya kantor tetap, tidak punya staf berbayar, dan tidak punya jaminan keamanan, namun mereka adalah barisan terdepan yang paling sering menjadi target kekerasan fisik dari pihak berkuasa.
Baca Juga: Mengukir Jejak Kesetaraan Gender: Women Power dan Transformasi Hukum di Dunia Kerja
Mengagumi para tokoh kesetaraan gender dunia dari kejauhan tidak cukup untuk mendorong perubahan. Setiap individu memiliki kapasitas untuk menciptakan perubahan di lingkungan terdekat mereka, tanpa harus mendirikan organisasi internasional atau menggalang dana miliaran.
Perubahan paling permanen justru dimulai dari ruang-ruang kecil: keluarga, tempat kerja, komunitas lokal. Ketika cukup banyak orang mempraktikkan kesetaraan dalam keseharian, norma sosial bergeser secara perlahan namun pasti, dan kebijakan publik akan mengikuti arus tersebut.
Misalkan kamu bekerja di perusahaan dengan 50 karyawan dan tidak ada satu pun perempuan di posisi manajerial. Alih-alih hanya mengeluh di media sosial, kamu bisa memulai dengan mengusulkan kebijakan rekrutmen blind review di rapat HRD, membagikan data McKinsey 2023 tentang dampak diversitas gender terhadap profitabilitas, dan mensponsori satu perempuan junior untuk program mentoring internal. Langkah konkret ini terbukti meningkatkan representasi perempuan di level manajerial rata-rata 12% dalam 18 bulan.
Di tingkat komunitas, hal paling sederhana namun paling efektif adalah menjadi active bystander. Ketika seseorang membuat lelucon seksis di rapat RT atau grup WhatsApp komunitas, diam berarti memberikan persetujuan. Menyampaikan ketidaksetujuan secara tenang namun tegas, misalnya dengan mengatakan bahwa lelucon itu merugikan dan tidak pantas, sudah merupakan tindakan perlawanan. Studi oleh University of Oxford 2022 menunjukkan bahwa intervensi bystander yang konsisten bisa mengurangi perilaku seksis di lingkungan kerja hingga 35% dalam enam bulan.
Malala Yousafzai dan Chimamanda Ngozi Adichie termasuk figur paling berpengaruh saat ini. Malala karena pendekatan hukum dan pendanaan pendidikan yang terukur melalui Malala Fund, sementara Adichie karena narasi budayanya yang mengubah persepsi jutaan pembaca global tentang feminisme di benua Afrika dan seberangnya.
Menurut Global Gender Gap Report 2024, pada laju kemajuan saat ini dibutuhkan 134 tahun lagi atau sekitar tahun 2158 untuk mencapai paritas penuh. Angka ini bahkan memburuk dari proyeksi sebelumnya karena pandemi COVID-19 memperlambat kemajuan di negara berkembang secara signifikan.
Belum. Amnesty International 2023 mencatat hanya 24 dari 193 negara anggota PBB yang memberikan hak hukum penuh dan setara bagi perempuan. Selebihnya masih memiliki setidaknya satu bentuk diskriminasi legal, mulai dari pembatasan kepemilikan properti hingga ketimpangan upah yang dilegalkan oleh undang-undang.
Menjadi active bystander di lingkungan sehari-hari adalah langkah paling murah namun paling efektif. Menantang lelucon seksis secara tenang, membagikan data berbasis bukti tentang ketimpangan, dan mendukung usaha perempuan lokal secara konsisten sudah merupakan bentuk perlawanan nyata yang tidak membutuhkan anggaran besar.
Para pembela HAM global ini mengingatkan kita bahwa perubahan besar selalu dimulai dari tindakan kecil yang konsisten. Dalam dunia yang menuntut 134 tahun untuk mencapai paritas gender, menyerah bukan opsi. Pertanyaannya: tindakan kecil apa yang akan kamu ambil hari ini untuk mendorong kesetaraan?
GRB Project - Laporan United Nations Development Programme (UNDP) 2023 mengungkap fakta mengejutkan bahwa sekitar 76% desa di Indonesia masih…
GRB Project - Data BPS 2023 menunjukkan bahwa partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia masih tertinggal 17 persen dibandingkan laki-laki,…
GRB Project - Komnas Perempuan mencatat ada 407.848 kasus kekerasan terhadap perempuan selama tahun 2023. Angka ini menunjukkan peningkatan yang…
GRB Project - Indonesia masih menghadapi tantangan berat dalam mewujudkan keadilan gender meski telah meratifikasi berbagai konvensi internasional. Data terbaru…
GRB Project - Laporan terbaru Amnesty International tahun 2023 mencatat setidaknya ada 60 kasus kriminalisasi terhadap aktivis dan pembela HAM…
GRB Project, Jakarta - Laporan World Economic Forum 2024 menempatkan Indonesia pada peringkat 87 dari 146 negara dalam indeks kesetaraan…